Konflik antara harimau sumatera dengan penduduk lima tahun terakhir ini banyak terjadi di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Bengkulu. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) memperkirakan dikala ini sedikitnya 57 ekor Harimau Sumatra (Panthera tigris Sumatrae) tengah turun dari gunung.

Konflik antara harimau sumatera dengan penduduk lima tahun terakhir ini banyak terjadi di  57 Harimau Sumatera Turun Gunung Ancam Warga Bengkulu

Dari 57 harimau turun gunung di Provinsi Bengkulu itu, rinciannya, 40 ekor berkeliaran di wilayah Hutan Kabupaten Bengkulu Utara, Lebong, dan Rejang Lebong. 12 ekor berkeliaran di wilayah hutan Kabupaten Kepahiang, Bengkulu Tengah dan Seluma. Dan 5 ekor lagi berkeliaran di Kabupaten Bengkulu Selatan dan Kaur.

Konflik Antara Manusia dan Harimau

Walhi mencatat konflik antara insan dan harimau di sekitar tempat Semidang Bukit Kabu cukup tinggi. Dalam 2 tahun terakhir ada 7 warga yang dimangsa harimau yakni 5 orang warga desa Sekalak dan 2 orang warga Desa Talang Beringin.

Tidak hanya itu harimau juga mengancam masyarakat di desa sekitar Taman´┐Ż Buru Semidang Bukit Kabu, yaitu; Desa Lubuk Resam, Talang Beringin, Puguk, Sekalak di Kabupaten Seluma dan desa Kuta Nyiur di Kabupaten Bengkulu Tengah.

Pemicu konflik manusia-harimau ini disebabkan rusaknya habitat tempat hidup dan berkembangnya Harimau Sumatra, kerusakan terparah terjadi di Taman Buru Semidang Bukit Kabu di Kabupaten Bengkulu Tengah dan Seluma yang merupakan salah satu habitat kunci Harimau Sumatera.

Semidang bukit kabu mengalami kerusakan yang cukup parah. Luas Semidang Bukit Kabu tercatat 9.035 ha dan 75% diantanranya rusak dan gundul. Kerusakan Semidang Bukit Kabu tidak lepas dari perusahaan tambang batubara yang ada disekitarnya.

Kerusakan tempat hutan telah mencapai 26,7% dari total luas yang ada. Yang meliputi Hutan Konservasi, Hutan Lindung, Hutan Produksi Terbatas dan Hutan Produksi yang terdapat di 9 Kabupaten di Provinsi Bengkulu.