Menjadi seorang atlet berprestasi tentunya menjadi idaman setiap orang. Selain membanggakan keluarga, menjadi atlet populer sampai ke tingkat Asia secara tidak eksklusif pastinya sangat kuat pada Tanah Air, alasannya sanggup mengharumkan nama bangsa.

Menjadi seorang atlet berprestasi tentunya menjadi idaman setiap orang Atlet Berprestasi Tingkat Asia Dikontrak Kaprikornus Tenaga Kebersihan

Menjadi atlet populer pada umumnya selalu lekat dengan kemewahan ataupun segi material yang berlimpah. Namun lain halnya yang dirasakan oleh Ni Putu Renika Sari. Ni Putu Renika Sari yakni atlet panjat tebing yang berasal dari Lingkungan Sawe, Kelurahan Dauhwaru, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana, Bali.

Di tingkat Asia, Renika Sari tercatat sebagai atlet panjat tebing berprestasi. Meskipun berprestasi, perempuan 25 tahun itu tak mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Peraih 1 medali emas dan 1 medali perunggu dalam ASIA Youth Cup tahun 2009 di Denpasar itu hidup dalam kesederhanaan.

Kisah Hidup Ni Putu Renika Sari

Sebagai atlet panjat tebing berprestasi yang disandangnya, ia justru menjadi tukang sapu di taman rekreasi Gedung Kesenian Bung Karno milik Pemerintah Kabupaten Jembrana, Bali. Kata Renika, Pemkab Jembrana memberikannya pekerjaan sebagai tenaga kontrak kebersihan semenjak tahun 2014. Sebelumnya, ia bekerja sebagai tenaga serabutan yang penghasilannya tidak lebih Rp 50 ribu per hari.

Renika yang merupakan alumni Sekolah Menengan Atas Negeri 1 Negara itu hidup bersama ibunya di rumah milik neneknya. Ia berusaha keras mencukupi kebutuhan hidup dengan menyapu. Walaupun setiap pagi dan sore menyapu di lahan yang cukup luas itu, ia tetap berusaha membagi waktu untuk fokus latihan memanjat.

Ni Putu Renika Sari mengaku sangat jarang ada waktu bermain menyerupai dewasa lainnya, alasannya setiap hari harus bekerja. Pulang kerja sekitar pukul 16.00 WIB, ia biasanya latihan bersama belasan atlet lain di Stadion Pecangakan-Jembrana sampai pukul 21.00 WITA. Dia juga mengajar memanjat kepada junior.