Mengenal Kampung Madu Di Kedungpoh Lor, Nglipar

KAMPUNG Madu terletak di Padukuhan Kedungpoh Lor, Kedungpoh, Nglipar. Tempat ini berdekatan dengan Kecamatan Gedangsari kalau kita mau berkunjung ke sana tentunya semua sudah pada tau rute yang harus di lewatinya terutama warga Gedangsari.

KAMPUNG Madu terletak di Padukuhan Kedungpoh Lor Mengenal Kampung Madu Di Kedungpoh Lor, Nglipar

Dusun Kedungpoh Lor ini merupakan penghasil madu terbesar di Gunungkidul. Usaha ini di tekuni oleh warga Kedungpoh Lor hingga hingga ketika ini, sanggup berkembang dengan baik. Sehingga kampung ini dinamakan kampung madu. Madu yang dihasilkan juga tidak mengecewakan banyak.

Penghasil Madu Terbesar Di Gunungkidul

Telah kita ketahui bersama betapa besar manfaat madu orisinil bagi kesehatan kita. Madu, semenjak dulu memang dikenal sebagai masakan yang berguna bagi kesehatan. Madu yang merupakan hasil dari lebah sanggup dikonsumsi eksklusif atau dicampur dengan materi masakan lain. Bisa juga dibentuk minuman, contohnya dengan mencampurkan madu dengan air hangat. Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa adonan madu dan air hangat mempunyai banyak manfaat bagi kesehatan tubuh.

Selain madu lebah juga banyak memperlihatkan manfaat bagi manusia. Selain produksi madu, lebah juga mengajarkan insan bagaimana mengamankan hutan dan melestarikan alam. Sebab, lebah membuatkan serbuk sari yang akibatnya tumbuh menjadi tanaman.

Penduduk di Kedungpoh Lor memelihara sedikitnya tujuh juta ekor lebah. Setiap ekspresi dominan panen, minimal tiga bulan sekali, jutaan serangga yang masuk familia Apidae ini menghasilkan lima kwintal madu. �Setiap satu kilogram madu dihargai Rp 200 ribu.

Memelihara lebah merupakan tradisi turun temurun yang sudah dilakukan semenjak lama. Ada sekitar 300 stup (rumah lebah) yang dikelola kelompok masyarakat setempat.

Di dusun tersebut, hampir setiap kepala keluarga (KK) mempunyai peliharaan lebah. Mereka mengelola dan memasarkan sendiri�atau lewat kelompok hasil madunya. Satu kali panen, satu stup sanggup menghasilkan 1,5 kilogram madu. Kelompok juga melayani penjualan koloni lebah bagi yang ingin memelihara sendiri. �Selain ditetapkan sebagai kampung madu, Kedongpoh Lor juga punya hutan swadaya.

Posted on

Kerajinan Ukir Kerikil Alam Di Gedangsari

Di negara kita ini merupakan negara yang kaya akan potensi alam dan sumber banyak sekali materi alam untuk kebutuhan manusia. Salah satu materi alam yang sanggup dimanfaatkan sebagai materi dekorasi yakni kerikil alam yang banyak jenisnya. Misalnya kerikil candi dari Gunungkidul ini sanggup dibuat menjadi banyak sekali benda hias selain untuk materi bangunan. Warna dan tekstur serta alur-alur yang terdapat pada kerikil alam tersebut menjadi hal yang menarik untuk ditonjolkan.

Di negara kita ini merupakan negara yang kaya akan potensi alam dan sumber banyak sekali materi  Kerajinan Ukir Batu Alam Di Gedangsari

Batu alam lainnya yakni kerikil paras yang berasal dari Gunungkidul, biasanya digunakan untuk hiasan dengan cara dipahat dan dibuat relief atau patung. Adapun penampilan fisik dari kerikil paras ini yaitu ada yang berwarna krem, putih kecoklatan, putih kekuningan, beralur-alur dengan warna lebih gelap atau lebih jelas serta bertekstur indah.

Batu Alam Paras Sering Digunakan Oleh Para Perajin

Batu jenis ini merupakan kerikil alam yang sering digunakan oleh para perajin alasannya yakni kerikil ini tidak keras sehingga gampang dibentuk.Selain itu, benda kerajinan menyerupai patung ataupun bentuk dekorasi lain sanggup diperbanyak dengan dicetak. Karena itulah harganya sanggup lebih rendah daripada benda kerajinan kerikil yang dipahat satu persatu. Namun, tetap saja keindahan alami berupa tekstur dan alur-alur pada kerikil tidak sanggup ditiru oleh manusia. Penemuan materi yang penampilannya hampir sama dengan kerikil yang orisinil ini memperlihatkan kebebasan kepada konsumen untuk menentukan jenis kerikil yang dikehendaki.

 

Di Kecamatan Gedangsari khususnya di desa Hargomulyo terdapat beberapa orang pengrajin ukir kerikil alam. Seperti yang dilakukan oleh bapak Haris dari Dusun Jetis, Desa Hargomulyo, Kecamatan Gedangsari ini sudah menekuni pekerjaan ini semenjak dulu. Pak Haris ini lebih banyak mengerjakan ukir yang berupa patung. Pak Haris hanya melayani pesanan saja dalam menciptakan patung kerikil alam ini.

Selain itu ada juga pengrajin ukir kerikil alam dari Dusun Balong, Desa Hargomulyo, Kecamatan Gedangsari yang berjulukan pak Sukardi ia yakni pengrajin kerikil alam khusus untuk dekorasi rumah menyerupai lukisan dan ornamen-ornamen yang lainnya.

Posted on

Sri Sultan Hamengku Buwono X Dukung Gedangsari Sebagai Pusat Batik Gunungkidul

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan dukungannya pada rencana Pemerintah Kabupaten Gunungkidul untuk mengakibatkan Kecamatan Gedangsari sebagai pusat batik Gunungkidul. Karena Kecamatan Gedangsari sudah mempunyai sebuah karya batik ialah batik walang.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan dukungannya pada rencana Pemerintah K Sri Sultan Hamengku Buwono X Dukung Gedangsari sebagai Sentra Batik Gunungkidul

�Berbagai kajian akademis dan penelitian empiris telah menandakan keabsahan tesis bahwa pendidikan memperlihatkan bantuan signifikan terhadap pembangunan ekonomi. Pendidikan bukan saja melahirkan SDM berkualitas, tetapi juga menumbuhkan iklim yang sehat dan aman bagi pertumbuhan ekonomi,� ujar Gubernur DIY dikala bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Anies Rasyid Baswedan, meresmikan Gedung Sekolah Menengah kejuruan Negeri 2 Gedangsari Jurusan Tata Busana Butik Batik di Desa Tegalrejo, Kecamatan Gedangsari, Gunungkidul.

Investasi Di Bidang Pendidikan

SMK Negeri 2 Gedangsari Jurusan Tata Busana Butik Batik memperoleh dukungan dari PT. Astra Internasional Tbk melalui Yayasan Pendidikan Astra. Sekolah Menengah kejuruan Negri 2 Gedangsar merupakan sekolah satu satunya yang berada di gedangsari yang mempunyai jurusan butik batik.

�Investasi di bidang pendidikan tidak saja berfaedah bagi perseorangan, tetapi juga komunitas bisnis dan masyarakat khususnya dimasarakat tegal rejo. Gubernur DIY mengucapkan banyak terima kasih kepad PT Astra Internasional Tbk yang telah memberi dukungan berupa sekolahan butik.

Sementara itu, Anies Baswedan mengatakan, masih ada kesenjangan antara dunia pendidikan dengan dunia usaha, sehingga perlu didekatkan antara lain dengan model pengembangan pendidikan Sekolah Menengah kejuruan yang diselaraskan dengan kondisi kawasan setempat.

�Pengembangannya akan berbeda contohnya di Kalimantan Timur pengembangan anyaman, Bogor pertanian. Jadi, diubahsuaikan potensi daerah-daerah. Kualifikasi guru juga harus ditingkatkan, sasaran kualifikasi kini ini 7, tetapi kenyataannya gres mencapai 4,6,� jelas Anies.

Penandatanganan prasasti dan pengguntingan pita dilakukan Anies Baswedan, didampingi Gubernur DIY, Bupati Gunungkidul Badingah, Direktur Astra Tbk Djoko Pranoto, dan perwakilan yayasan Astra Michael D. Ruslim Trisni Puspaningtyas.

Posted on