Guna mengantisipasi terjadinya serangan teroris, Kementerian Agama Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, melaksanakan pemetaan terhadap sejumlah wilayah yang berpotensi menjadi penyebaran paham radikalisme. Ada 3 kecamatan di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, yang berpotensi akan hal tersebut.

Guna mengantisipasi terjadinya serangan teroris Waspada Teroris, 3 Kawasan Bekasi Ini Rawan Aliran Sesat

Ketiga kecamatan itu yaitu Kecamatan Cibitung, Kecamatan Tarumajaya, dan Kecamatan Kedungwaringin. Kepala Kementerian Agama Kabupaten Bekasi, Shobirin, di Cikarang, Jawa Barat menyampaikan Kecamatan Cibitung berpotensi menjadi lokasi penyebaran pedoman sesat.

Di daerah Kecamatan Cibitung tersebut pernah beredar aliran Annubuah yang pengikutnya mempercayai kehadiran nabi sesudah Nabi Muhammad SAW. Menurut Kepala Kementerian Agama Kabupaten Bekasi, Shobirin, aliran itu menyerupai sekali dengan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) alasannya mengaku sebagai pengikut Imam Mahdi.

Sementara itu di Kecamatan Tarumajaya, menyerupai halnya yang dikatakan oleh Kepala Kementerian Agama Kabupaten Bekasi, Shobirin, dilaporkan ada seorang cowok yang sempat mengaku sebagai nabi. Pemuda itu bahkan memperlihatkan pedoman sesat kepada pengikutnya. Kondisi serupa pun juga pernah terjadi di Kecamatan Kedungwaringin yang daerahnya berbatasan dengan Kabupaten Karawang.

Upaya Pemetaan Kawasan Rawan Aliran Sesat

Berbagai cara atau upaya pemetaan daerah rawan aliran sesat itu menurut laporan yang dihimpun dari Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat setempat. Hingga sekarang jajarannya pun terus menjalin koordinasi dengan pihak terkait untuk mengantisipasi paham sesat tersebut, termasuk dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat.

Kepala Kementerian Agama Kabupaten Bekasi, Shobirin menyampaikan pihaknya juga terus melaksanakan penyuluhan dan masuk ke majelis taklim dan juga forum keagamaan lain untuk sosialisasi ancaman paham radikalisme. Wilayah Kabupaten Bekasi memang berpotensi menjadi penyebaran paham sesat mengingat begitu banyak pendatang yang mengadu nasib untuk mencari pekerjaan di daerah industri.